get app
inews
Aa Text
Read Next : Kepulangan Rita Widyasari Memantik Spekulasi Politik, Namun Ia Memilih Menepi

Membawa Suara Kutai ke Tengah Arus Musik Indonesia

Sabtu, 13 Juni 2026 | 17:42 WIB
header img
Foto : Berangkat dari akar budaya Kutai, Petala Borneo membuktikan bahwa musik tradisi mampu berdialog dengan zaman dan menembus panggung nasional.

TENGGARONG, iNewsKutai.id — Di tengah arus musik modern yang terus bergerak cepat, Ahmad Fauzi memilih berjalan ke arah yang berbeda. Musisi yang akrab disapa Bang Ozi itu justru membawa kembali suara tradisi Kutai ke panggung yang lebih luas.

Melalui kelompok ethnic fusion Petala Borneo, Fauzi dipercaya menjadi bagian dari album kompilasi nasional Rampak Jreng, sebuah proyek yang mempertemukan sepuluh kelompok keroncong alternatif dari berbagai daerah di Indonesia dalam perayaan satu dekade gerakan Keroncong Plesiran.

Di antara beragam warna musik yang terlibat, Petala Borneo hadir membawa identitas yang khas: Tingkilan Kutai.

Karya yang mereka siapkan berjudul Keroncong Tingkilan, sebuah komposisi yang memadukan struktur musik keroncong dengan karakter musikal Tingkilan yang telah lama hidup di tepian Sungai Mahakam.

Bagi Fauzi, lagu tersebut bukan sekadar eksperimen musikal. Di balik nada dan iramanya, tersimpan upaya memperkenalkan kembali kekayaan budaya Kutai kepada publik yang lebih luas.

“Ini adalah bentuk penghormatan kami terhadap akar tradisi Kutai Kartanegara. Sekaligus membuktikan bahwa musik Tingkilan memiliki fleksibilitas yang luar biasa untuk berkolaborasi dengan berbagai genre, termasuk keroncong,” kata Fauzi.

Keikutsertaan Petala Borneo dalam album nasional itu bukan datang secara kebetulan. Jejak mereka bermula dari penampilan pada sebuah festival keroncong di Solo setahun sebelumnya. Dari panggung itulah hubungan kultural dengan komunitas Keroncong Plesiran terjalin dan kemudian berujung pada undangan untuk terlibat dalam proyek Rampak Jreng.

Bagi Kalimantan Timur, kehadiran Petala Borneo memiliki makna tersendiri. Mereka menjadi satu-satunya wakil dari Bumi Etam dalam album yang mempertemukan berbagai warna baru musik keroncong Indonesia.

Di tengah kecenderungan generasi muda yang semakin akrab dengan musik global, Fauzi melihat kolaborasi sebagai jalan agar tradisi tetap hidup. Menurutnya, budaya tidak harus bertahan dengan cara mengurung diri dari perubahan.

“Tradisi tidak harus ditinggalkan. Justru melalui kolaborasi seperti ini, identitas lokal dapat terus hidup dan dikenal lebih luas,” ujarnya.

Mulai 13 Juni 2026, Keroncong Tingkilan akan dapat didengarkan melalui berbagai platform musik digital bersama sembilan karya lain dalam album Rampak Jreng. Dari Tenggarong, dari tepian Mahakam, suara Tingkilan kini menempuh perjalanan baru—menyapa pendengar Indonesia, bahkan dunia.

Editor : Dzulfikar

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut