Cucu Meninggal Usai Dirawat di ICU, Kakek di Palaran Minta Warga Berhenti Bakar Lahan
SAMARINDA, iNewsKutai.id – Sarno tak ingin keluarga lain merasakan kehilangan seperti yang dialaminya. Setelah cucunya meninggal dunia usai menjalani perawatan intensif di rumah sakit, warga Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran, Samarinda, itu menyampaikan satu harapan: jangan lagi membakar lahan.
Permintaan tersebut muncul di tengah kekhawatiran keluarga terhadap kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti lingkungan tempat tinggal mereka di Jalan Diponegoro.
Sebelum meninggal dunia, cucu Sarno mengalami sesak napas hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Kondisinya kemudian memburuk dan memerlukan penanganan di ruang Intensive Care Unit (ICU).
“Waktu itu cucu saya mengalami sesak napas. Di sekitar rumah memang ada kabut asap yang menyelimuti lingkungan. Kami khawatir kondisi asap itu berdampak pada pernapasannya,” kata Sarno.
Keluarga berharap perawatan intensif dapat menyelamatkan bayi tersebut. Namun, harapan itu pupus. Sehari setelah mendapatkan penanganan medis, sang bayi dinyatakan meninggal dunia.
“Cucu saya kemudian dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, bahkan sempat masuk ICU. Namun, keesokan harinya, cucu saya meninggal dunia,” ujarnya.
Kepergian sang bayi meninggalkan duka bagi keluarga. Di tengah kesedihan itu, Sarno mengkhawatirkan kondisi udara di sekitar permukiman yang menurutnya diselimuti kabut asap.
Meski demikian, belum dapat dipastikan apakah gangguan pernapasan yang dialami cucunya berkaitan langsung dengan paparan asap karhutla. Hingga kini, belum ada keterangan medis yang memastikan penyebab kematian bayi tersebut.
Dari Duka Menjadi Seruan
Sarno tidak hanya menceritakan kehilangan yang dialami keluarganya. Ia juga berharap masyarakat lebih peduli terhadap dampak pembakaran lahan, terutama bagi warga yang rentan mengalami gangguan kesehatan.
“Janganlah bakar lahan lagi. Saya harapkan kita semua bisa saling menjaga,” katanya.
Menurut Sarno, kondisi kabut asap menjadi kekhawatiran tersendiri bagi keluarga yang memiliki bayi dan anak-anak.
Secara umum, asap kebakaran lahan mengandung partikel halus yang dapat mengganggu saluran pernapasan. Bayi dan anak-anak termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak buruk polusi udara.
Karena itu, kondisi udara di kawasan permukiman yang terdampak asap perlu mendapat perhatian, terutama untuk melindungi kelompok masyarakat yang berisiko.
Sementara itu, penyebab pasti kematian cucu Sarno tetap memerlukan penjelasan dari tenaga medis yang menangani. Kesaksian keluarga mengenai keberadaan kabut asap belum cukup untuk menyimpulkan adanya hubungan langsung dengan kematian korban.
Bagi Sarno, kehilangan cucunya menyisakan pesan sederhana. Ia berharap masyarakat tidak lagi melakukan pembakaran lahan yang berpotensi memperburuk kualitas udara.
Di tengah duka keluarganya, ia ingin lingkungan tempat tinggal warga tetap aman, terutama bagi anak-anak yang masih membutuhkan perlindungan.
Editor: Dzulfikar