ROMA, iNewsKutai.id – Pemerintah Italia dipusingkan dengan ancaman krisis energi menjelang musim dingin mendatang. Negeri Pizza terancam membeku jika menghentikan pasokan gas dari Rusia sebagai bentuk sanksi atas invasi ke Ukraina.
Sekadar diketahui, Uni Eropa menjatuhkan rentetan sanksi kepada Rusia. Salah satu bentuknya adalah menghentikan pasokan bahan bakar dari Negeri Beruang Merah yang selama ini menjadi tulang punggung energi di Eropa.
Namun, sanksi itu menjadi simalakama karena tidak sedikit negara Eropa yang bergantung pada pasokan energi khususnya gas dari Rusia. Selain itu, Kremlin juga membalas sanksi dengan mewajibkan pembelian menggunakan mata uang Rubel.
Situasi pelik ini membuat banyak negara Eropa kelimpungan. Italia adalah salah satu yang terancam membeku pada musim dingin mendatang jika tidak mendapatkan pemasok pengganti.
Menteri Transisi Ekologi Italia, Roberto Cingolani menyatakan, Italia bisa saja bertahan tanpa pasokan gas dari Rusia. Namun, hal itu hanya bisa berjalan beberapa bulan karena cadangan energi Italia akan habis.
"Dampaknya tidak akan terasa sekarang karena masih ada cadangan meskipun tidak besar. Tapi dalam beberapa bulan kedepan, itu akan menjadi masalah jika impor gas Rusia ditangguhkan," katanya kepada lembaga penyiaran Italia Radio24, Senin (4/4/2022).
Cingolani menuturkan dia tetap berhubungan dengan mitra Eropa, seperti Jerman dan Prancis, setelah Moskow menuntut agar para importir Eropa membayar rubel untuk gas alam yang mereka beli dari Rusia.
Saat ini, Pemerintah Italia telah menjajaki opsi untuk memperoleh sumber gas alam dari Aljazair, Azerbaijan, Tunisia, dan Libya untuk persediaan menjelang musim dingin.
Menteri Luar Negeri Italia Luigi Di Maio, juga telah mengunjungi negara-negara kaya hidrokarbon sebagai bagian dari upaya untuk mengakhiri ketergantungan pada Rusia.
Pada Kamis (31/3/2022) pekan lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani dekret terkait jual beli gas Rusia. Menurut dekret itu, setiap pembeli asing harus membayar gas Rusia dengan rubel mulai Jumat (1/4/2022).
Kontrak pembelian akan dihentikan secara sepihak oleh Moskow jika pembeli tidak bersedia membayar dengan mata uang Rusia tersebut. Dekret yang dikeluarkan Putin kali ini sebagai balasan atas sanksi ekonomi yang dijatuhkan negara-negara Barat (AS dan Uni Eropa) terhadap Rusia, menyusul serangan pasukan Moskow ke Ukraina sejak Februari lalu.
Editor : Abriandi
Artikel Terkait