Peluang Ekonomi Berhadapan dengan Tantangan Lingkungan
Di balik peluang bisnis tersebut, pembangunan pembangkit berbahan bakar batu bara tetap memiliki konsekuensi lingkungan.
Aulia sendiri mengakui aktivitas distribusi batu bara selama ini menimbulkan persoalan terhadap ekosistem sungai, termasuk habitat pesut Mahakam.
“Kami punya ekosistem pesut di sana terganggu, kami punya ekosistem yang ada di sungai di sana terganggu,” katanya.
Pembangkit mulut tambang berpotensi mengurangi sebagian kebutuhan pengangkutan batu bara. Namun, pengurangan aktivitas distribusi tidak berarti seluruh dampak lingkungan dapat dihilangkan.
Pengoperasian pembangkit tetap menghasilkan emisi dan limbah yang memerlukan pengendalian. Karena itu, rencana investasi harus memperhitungkan kelayakan lingkungan, selain manfaat ekonominya.
Di sisi lain, pengembangan pembangkit baru juga harus mempertimbangkan arah kebijakan energi nasional dan kebutuhan pasokan listrik.
Bagi Kukar, gagasan ini menghadirkan pertanyaan mendasar: seberapa besar manfaat ekonomi yang benar-benar dapat diperoleh daerah apabila batu bara tidak hanya ditambang, tetapi juga dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik?
Jawabannya bergantung pada rancangan bisnis yang belum diumumkan secara terperinci.
Untuk saat ini, rencana pembangkit listrik mulut tambang masih menjadi langkah awal yang didorong Aulia. Realisasinya akan ditentukan oleh hasil kajian, kepastian investasi, serta kemampuan perusahaan daerah mengambil peran dalam industri ketenagalistrikan.
Dengan demikian, tantangan Kukar bukan hanya membangun pembangkit, melainkan memastikan kekayaan sumber daya yang dimiliki dapat memberikan manfaat ekonomi yang terukur bagi daerah tanpa mengabaikan biaya lingkungan yang menyertainya.
Editor : Suriya Mohamad Said
Artikel Terkait
