Festival Beduk Sahur Sungai Mariam Diserbu Ribuan Warga, 30 Peserta Tampil Kreatif
KUTAI, iNewsKutai.id – Ribuan warga memadati Festival Beduk Sahur yang digelar di Desa Sungai Mariam, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Rabu (5/3/2026). Kegiatan yang telah memasuki tahun ketiga ini berlangsung meriah dengan partisipasi 30 peserta dari berbagai daerah di Kaltim.
Kepala Desa Sungai Mariam, Indra Lesmana, mengatakan antusiasme masyarakat tahun ini sangat tinggi. Sejak sore hari, warga telah berdatangan untuk menyaksikan penampilan para peserta yang menabuh beduk sahur dengan berbagai variasi irama dan atraksi.
“Alhamdulillah, masyarakat sangat ramai dan antusias. Festival ini sudah memasuki tahun ketiga, dan setiap tahun jumlah peserta maupun penonton terus meningkat,” ujar Indra saat ditemui di lokasi acara.
Menurut dia, Festival Beduk Sahur menjadi agenda rutin desa setiap bulan Ramadan. Selain melestarikan tradisi membangunkan sahur, kegiatan tersebut juga menjadi ruang silaturahmi warga serta ajang kreativitas generasi muda.
Indra berharap, festival ini ke depan bisa semakin besar dan melibatkan lebih banyak peserta dari berbagai wilayah di Kalimantan Timur. Ia juga menilai kegiatan tersebut membawa dampak positif bagi perekonomian warga karena dirangkai dalam konsep Kampung Ramadan.
“Di sekitar lokasi banyak UMKM yang berjualan. Ini menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk meningkatkan pendapatan selama Ramadan,” katanya.
Camat Anggana, Rendra Abadi, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Sungai Mariam atas konsistensinya menyelenggarakan kegiatan tahunan tersebut. Ia menilai Festival Beduk Sahur menjadi salah satu kegiatan positif yang mampu meramaikan suasana Ramadan.
“Kami berterima kasih kepada Kepala Desa Sungai Mariam yang rutin menggelar festival ini. Kegiatan seperti ini sangat baik untuk meramaikan bulan Ramadan dan memberi wadah bagi anak-anak muda untuk berkegiatan positif,” ujar Rendra.
Ia menambahkan, melalui kegiatan Kampung Ramadan, pemerintah kecamatan mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi masyarakat. Menurutnya, festival semacam ini tidak hanya berdampak pada pelestarian budaya, tetapi juga pada perputaran ekonomi desa.
“Ini bukan sekadar lomba, tetapi bagian dari upaya membangkitkan UMKM masyarakat. Ramadan menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan sekaligus ekonomi warga,” ucapnya.
Sementara itu, salah satu peserta, Junaidi, mengaku telah melakukan persiapan jauh sebelum Ramadan tiba. Ia bersama timnya rutin berlatih demi menampilkan pertunjukan terbaik dalam festival tersebut.
“Kami mempersiapkan diri sejak sebelum bulan Ramadhan 2026. Karena ini acara tahunan, kami ingin tampil maksimal,” kata Junaidi.
Ia menjelaskan, kelompoknya tidak hanya fokus pada tabuhan beduk, tetapi juga menampilkan miniatur masjid dengan konsep kearifan lokal. Miniatur tersebut menggambarkan kehidupan masyarakat Sungai Mariam yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan dan petambak udang.
“Kami mengangkat tema pesisir, karena di Sungai Mariam kebanyakan masyarakatnya nelayan dan petambak udang. Jadi ada ornamen perahu dan tambak dalam miniatur yang kami buat,” ujarnya.
Dentuman beduk yang menggema sepanjang malam menjadi simbol semangat kebersamaan warga Sungai Mariam dalam menyambut Ramadan. Festival Beduk Sahur pun tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga ruang ekspresi budaya dan kreativitas masyarakat desa pesisir tersebut.
Editor : Dzulfikar