Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Kukar Target Tiga Besar Porprov Korpri Kaltim 2026, Atlet ASN Jalani Latihan Intensif
Advertisement . Scroll to see content

Batu Bara Melimpah, Listrik Masih Padam: Ironi Energi di Kutai Kartanegara

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:22 WIB
  • author Dzulfikar Ash
Batu Bara Melimpah, Listrik Masih Padam: Ironi Energi di Kutai Kartanegara
Foto: Bupati Kukar Aulia Rahman Basri Dorong Pembangunan PLTU mulut tambang.

TENGGARONG SEBERANG, iNewsKutai.id — Batu bara terus melintas, aktivitas pertambangan berjalan, tetapi persoalan listrik masih membayangi kehidupan masyarakat Kutai Kartanegara (Kukar). Ironi ini kembali disorot Bupati Kukar Aulia Rahman Basri saat berbicara mengenai pemadaman listrik dan kebutuhan pembangunan pembangkit di daerahnya.

Bagi Kukar, persoalan listrik bukan sekadar urusan teknis antara pelanggan dan PT PLN. Di balik pemadaman, terselip pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa daerah yang kaya sumber daya energi justru masih menghadapi persoalan pasokan listrik bagi warganya?

Aulia mengakui pemerintah kabupaten tidak memiliki kewenangan langsung untuk mengintervensi operasional PLN. Namun, ia menegaskan pemerintah daerah tetap berkewajiban memperjuangkan kesejahteraan masyarakat, termasuk memastikan kebutuhan listrik mendapat perhatian serius.

“Kami dari pemerintah daerah juga sudah berkomunikasi dengan PLN terkait kendala-kendala yang mereka alami dalam proses pemadaman ini,” kata Aulia saat diwawancarai seusai menghadiri pembukaan pelatihan Gemini Word AI di Gedung Putri Karang Melenu, Tenggarong Seberang.

Menurut Aulia, persoalan tersebut tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Pemerintah daerah, kata dia, telah menyampaikan usulan pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) mulut tambang kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Usulan itu menjadi salah satu upaya mendorong pemanfaatan potensi batu bara untuk menjawab kebutuhan energi masyarakat.

Aulia menyinggung kekecewaan warga yang setiap hari menyaksikan batu bara diangkut dari wilayah mereka, sementara kebutuhan listrik belum sepenuhnya terpenuhi.

“Bapak-Ibu bisa merasakan betapa sakitnya hati warga masyarakat Kukar yang setiap hari melihat batu bara lewat di depan mata mereka, sementara di sisi lain kondisi listrik masih menjadi salah satu yang terkendala,” ujarnya.

Pernyataan itu menegaskan persoalan yang lebih luas daripada gangguan pasokan semata: manfaat kekayaan alam bagi masyarakat di daerah penghasil. Ketika batu bara menjadi komoditas penting bagi perekonomian, warga setempat juga berharap pembangunan dan layanan dasar berjalan seiring dengan eksploitasi sumber daya tersebut.

Kecamatan Tabang menjadi salah satu contoh yang disinggung Aulia. Ia menyoroti kondisi kelistrikan di kawasan tersebut, meskipun wilayah itu memiliki aktivitas pertambangan batu bara berskala besar. Ia juga menyebut PT Bayan sebagai salah satu perusahaan yang beroperasi di kawasan tersebut.

Bagi pemerintah daerah, kondisi itu menjadi alasan untuk terus menyuarakan kebutuhan listrik masyarakat. Namun, keberadaan tambang batu bara tidak serta-merta berarti pasokan listrik untuk warga otomatis tersedia. Ketersediaan energi bagi rumah tangga tetap bergantung pada infrastruktur pembangkitan, jaringan transmisi dan distribusi, serta pengelolaan sistem kelistrikan.

Di titik inilah persoalan Kukar menjadi penting: kekayaan energi yang berada di sekitar masyarakat belum tentu langsung menjawab kebutuhan listrik mereka.

Aulia menegaskan pemerintah kabupaten tidak memiliki kewenangan untuk mengambil alih pengelolaan sistem kelistrikan. Karena itu, pemerintah daerah memilih memperkuat koordinasi dengan PLN dan Kementerian ESDM sekaligus terus mendorong solusi yang dinilai relevan bagi Kukar.

“Kami akan terus menyuarakan ini. Kewenangan kami untuk mengintervensi terlalu jauh memang tidak ada, tetapi kami selalu berkoordinasi dengan PLN dan Kementerian ESDM bidang kelistrikan,” katanya.

Usulan PLTU mulut tambang tersebut masih memerlukan tindak lanjut melalui kajian teknis, perencanaan, dan keputusan pihak yang berwenang. Pembangunan pembangkit baru juga tidak otomatis menjamin pemadaman berakhir apabila persoalan jaringan dan distribusi belum terselesaikan.

Bagi warga, yang dibutuhkan bukan sekadar rencana pembangunan, melainkan kepastian bahwa listrik dapat menyala secara andal, baik di pusat perkotaan maupun di wilayah yang jauh dari pusat pertumbuhan ekonomi.

Kukar memiliki kekayaan batu bara yang menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi daerah. Namun, ukuran keberhasilan pengelolaan energi tidak semestinya berhenti pada seberapa banyak sumber daya alam dikeruk dan diangkut keluar daerah. Manfaatnya juga perlu dirasakan dalam bentuk layanan dasar yang memadai.

Sebab, ironi terbesar bukan semata-mata melihat batu bara melintas setiap hari. Ironi itu muncul ketika kekayaan energi berada begitu dekat, tetapi kepastian listrik yang dibutuhkan masyarakat masih harus diperjuangkan.

Editor: Dzulfikar

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut