Klaim Habisi 6.000 Tentara Rusia, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky Singgung Pembantaian Yahudi

Anton Suhartono
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. (Foto: Reuters)

LVIV, iNewsKutai - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengklaim sudah menghabisi 6.000 tentara Rusia sejak invasi. Dia menyebut jika Kiev merupakan kota yang asing bagi pasukan Vladimir Putin.

"Serangan ini membuktikan bahwa Kiev benar-benar asing bagi kebanyakan orang di Rusia. Mereka tidak tahu apa-apa tentang Kiev, tentang sejarah kami," tuturnya merujuk pada serangan Rusia ke Babyn Yar, tempat pembantaian Yahudi pada Perang Dunia II, dikutip dari Reuters, Kamis (3/2/2022). 

Zelensky menegaskan Rusia tak bisa mengalahkan negaranya meskipun menggunakan bom dan serangan udara. Selain menghabisi ribuan tentara sejak sejak invasi pada Kamis (24/2/2022) dia juga mengklaim menghancurkan banyak peralatan tempur Rusia yang dihancurkan, termasuk jet tempur dan helikopter. 

Dia menjelaskan, kondisi ini disebabkan pasukan Rusia tak mengenali kondisi negaranya, terutama Ibu Kota Kiev. Zelensky pun meragukan pemahaman orang Rusia mengenai Ukraina. 

"Mereka telah diperintahkan menghapus sejarah kita, menghapus negara kita, menghancurkan kita semua," ujarnya lagi, dalam pesan video yang diunggah di media sosial.

Sementara itu, Majelis Umum PBB, Rabu (2/3/2022) waktu New York, mengesahkan resolusi yang mengecam Rusia karena menyerang Ukraina dalam pertemuan darurat. PBB juga mendesak Rusia untuk menghentikan perang serta menarik pasukannya dari Ukraina. 

Resolusi disetujui 141 dari total 193 anggota Majelis Umum PBB dan disahkan dalam sesi darurat yang digelar Dewan Keamanan PBB. Pertemuan darurat Majelis Umum terakhir kali digelar Dewan Keamanan pada 1982. Negara yang menentang, tentu saja Rusia, serta Belarusia, Eritrea, Korea Utara, dan Suriah. 

Sementara 35 anggota Majelis Umum PBB, termasuk China, memilih abstain. Resolusi yang disahkan Majelis Umum PBB tidak mengikat, namun memiliki bobot politik yang kuat. Hasil ini juga menunjukkan kemenangan Ukraina secara simbolik atas Rusia dan semakin mengisolasinya. Bahkan negara sekutu Rusia, Serbia, mendukung resolusi tersebut.

Editor : Abriandi

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network