Pulang ke Tanah Kutai, Tempat Rita Widyasari Menitipkan Hidup dan Matinya

Azizah
Foto : Rita Widyasari Mantan Bupat Kukar

TENGGARONG – Bagi sebagian orang, pulang adalah kembali ke sebuah rumah. Namun bagi Rita Widyasari, pulang berarti kembali ke Tanah Kutai,  tempat ia dilahirkan, dibesarkan, dan menyimpan hampir seluruh jejak kehidupannya.

 

Malam itu, Tenggarong seakan sedang menyambut salah satu anaknya yang lama berada jauh dari kampung halaman.

 

Di sepanjang jalan menuju pusat kota, warga berdiri berjejer. Ada yang melambaikan tangan, ada yang mengabadikan momen dengan telepon genggam, dan ada pula yang hanya ingin melihat dari dekat sosok yang selama bertahun-tahun hanya mereka lihat melalui layar televisi dan media sosial.

 

Ketika kendaraan yang ditumpangi Rita memasuki Tenggarong, sorak dan sapaan warga terdengar bersahutan.

 

Namun di balik ramainya penyambutan itu, ada cerita yang lebih sederhana: kerinduan seorang putri daerah kepada tanah kelahirannya.

 

“Saya lahir di sini. Saya orang Kutai,” ucap Rita.

 

Kalimat itu terdengar singkat. Tetapi bagi masyarakat Kutai, identitas tersebut memiliki makna yang dalam. Sebab Kutai bukan hanya soal wilayah administratif. Kutai adalah sejarah, adat, keluarga, dan ikatan emosional yang diwariskan dari generasi ke generasi.

 

Di kota inilah Rita mengenal masa kecilnya. Di Tenggarong ia tumbuh, bersekolah, mengenal lingkungan yang membentuk karakternya, hingga akhirnya dipercaya memimpin Kutai Kartanegara selama dua periode.

Karena itu, kepulangan kali ini bukan sekadar perjalanan fisik. Ia seperti sedang menelusuri kembali jejak hidupnya sendiri.

Rumah-rumah yang dilewati, jalan-jalan yang dahulu akrab dalam kesehariannya, hingga wajah-wajah masyarakat yang masih mengingat namanya menghadirkan kenangan yang tak mudah dijelaskan dengan kata-kata.

 

Sesekali Rita menatap ke arah kerumunan warga. Senyumnya mengembang, namun matanya tampak menyimpan haru.

 

Baginya, waktu mungkin telah berlalu. Banyak hal telah berubah. Tetapi satu hal yang tetap tinggal adalah rasa memiliki terhadap Tanah Kutai.

 

Malam itu, ia tidak banyak berbicara tentang politik. Ia tidak berbicara tentang jabatan atau kekuasaan. Yang muncul justru cerita tentang kampung halaman, tentang keluarga, dan tentang keinginan untuk kembali merasakan suasana tanah yang membesarkannya.

 

Ada makam ayah yang ingin diziarahi. Ada keluarga yang ingin ditemui. Ada kenangan masa kecil yang ingin kembali disentuh.

 

Karena pada akhirnya, sejauh apa pun seseorang melangkah, kampung halaman selalu memiliki cara untuk memanggil pulang.

 

Dan bagi Rita, panggilan itu berasal dari Kutai.

 

Tanah yang membesarkannya.

 

Tanah yang memberinya nama.

 

Tanah yang, menurut pengakuannya sendiri, tak pernah benar-benar ia tinggalkan dari dalam hati.

 

“Saya orang Kutai. Saya ingin hidup dan mati di sini.”

 

Di tengah gemerlap lampu kota Tenggarong malam itu, kalimat tersebut terdengar bukan sebagai pernyataan politik, melainkan sebagai ungkapan seorang anak daerah yang sedang kembali memeluk tanah kelahirannya.

 

Sebab bagi orang Kutai, pulang bukan hanya soal kembali ke sebuah tempat.

 

Pulang adalah kembali kepada akar. Kembali kepada sejarah. Dan kembali kepada tanah yang sejak awal telah menjadi bagian dari dirinya.

Editor : Dzulfikar

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network