TENGGARONG, iNewsKutai.id — Riuh sambutan warga yang menyambut kepulangannya ke Tenggarong, Jumat malam, 12 Juni 2026, belum mampu menggoda Rita Widyasari untuk kembali berbicara soal politik.
Mantan Bupati Kutai Kartanegara itu justru memilih mengambil jarak dari dunia yang pernah membesarkan namanya. Setelah hampir sembilan tahun menjalani hukuman penjara dalam perkara korupsi, Rita mengaku ingin menggunakan waktunya untuk beristirahat dan berkumpul bersama keluarga.
“Ah, saya no comment. Saya mau istirahat dulu,” kata Rita saat ditanya mengenai kemungkinan kembali berkiprah di dunia politik.
Rita diketahui telah bebas sejak Agustus 2025. Namun selama hampir setahun, ia nyaris tidak terlihat di ruang publik. Namanya baru kembali ramai diperbincangkan setelah muncul melalui media sosial pada awal Juni lalu.
Kemunculan itu segera memantik perhatian masyarakat. Di media sosial, banyak warga menyampaikan kerinduan sekaligus harapan agar Rita kembali mengambil peran dalam kehidupan politik Kutai Kartanegara. Antusiasme serupa tampak saat ia pulang ke Tenggarong. Ratusan warga memadati sejumlah ruas jalan untuk menyambut kedatangannya.
Bagi sebagian warga, Rita bukan sekadar mantan kepala daerah. Ia masih menjadi sosok yang dikenang karena pernah memimpin kabupaten terkaya di Kalimantan Timur itu selama dua periode.
Namun bagi Rita, kepulangan kali ini tampaknya lebih bersifat personal daripada politis.
Hampir satu dekade hidup di balik jeruji besi membuatnya kehilangan banyak momen bersama orang-orang terdekat. Saat kembali menghirup udara bebas, ia mendapati sebagian anggota keluarga dan kerabat telah lebih dahulu berpulang.
“Keluarga saya banyak yang sudah meninggal, saya nggak tahu. Karena saya terputus hubungan sama keluarga, nggak kontak sama keluarga. Pokoknya nggak tahu urusan berita-berita,” ujarnya.
Karena itu, agenda yang kini ingin ia tuntaskan bukanlah menyusun langkah politik baru. Ia ingin bertemu keluarga yang lama terpisah, bersilaturahmi dengan kerabat, dan berziarah ke makam orang-orang yang dicintainya.
Setelah hampir satu dekade jauh dari kampung halaman, kerinduan kepada keluarga tampaknya menjadi prioritas yang lebih penting bagi Rita dibandingkan panggung politik yang dulu mengantarkannya ke puncak kekuasaan di Kutai Kartanegara.
Editor : Dzulfikar
Artikel Terkait
