get app
inews
Aa Text
Read Next : Setahun Aulia–Rendi, Bantuan RT Naik Tiga Kali Lipat Jadi Rp150 Juta

Sembilan Tahun Menahan Rindu, Rita Widyasari Akhirnya Pulang ke Tenggarong

Jum'at, 12 Juni 2026 | 20:51 WIB
header img
Foto : Mengenakan baju putih, jilbab hitam, dan kacamata, Rita Widyasari menyapa warga yang menyambut kepulangannya ke Tenggarong setelah hampir sembilan tahun.

TENGGARONG, iNewsKutai.id – Langkah itu akhirnya kembali menapak di tanah yang selama ini hanya bisa dikenang dari kejauhan.

Jumat malam (12/6/2026), di bawah gemerlap lampu Bundaran Tuah Himba, Rita Widyasari kembali ke Tenggarong setelah hampir sembilan tahun terpisah dari kampung halamannya. Bagi banyak orang, itu mungkin sekadar kepulangan. Namun bagi Rita, malam itu adalah pertemuan kembali dengan rumah, kenangan masa kecil, dan tanah yang telah membentuk perjalanan hidupnya.

Sejak sore, warga mulai berdatangan. Mereka menunggu dengan sabar, sebagian membawa keluarga, sebagian lainnya hanya ingin memastikan bahwa sosok yang selama ini mereka lihat dari layar ponsel benar-benar telah kembali ke Kukar.

Ketika rombongan tiba sekitar pukul 19.06 WITA, suasana seketika berubah. Warga berdesakan mendekat. Ada yang mengulurkan tangan, ada yang memanggil namanya, ada pula yang hanya tersenyum sambil mengabadikan momen yang mereka tunggu bertahun-tahun.

Rita tampak beberapa kali menghentikan langkahnya. Ia melayani warga yang ingin bersalaman dan berfoto bersama. Sesekali ia menatap sekeliling, seolah mencoba memastikan bahwa tempat-tempat yang selama ini hidup dalam ingatannya masih berdiri di hadapannya.

Dengan suara yang terdengar bergetar, ia mengungkapkan kerinduannya kepada tanah kelahiran.

“Hampir sembilan tahun saya dipisahkan dari tanah kelahiran saya. Saya lahir dan besar di sini, di Jalan Mawar. Saya ingin hidup dan mati di sini,” ucapnya.

Kalimat itu sederhana, tetapi cukup membuat suasana menjadi haru. Tepuk tangan dan sorakan warga pecah di tengah malam Tenggarong.

Bagi Rita, Kutai Kartanegara bukan hanya sebuah wilayah administratif. Di tempat inilah ia tumbuh, bermain, belajar mengenal kehidupan, hingga kemudian dipercaya memimpin daerah yang dicintainya.

Selama hampir satu dekade berada jauh dari Kukar, banyak hal berubah. Jalan-jalan berkembang, wajah kota bertambah modern, dan generasi baru tumbuh dewasa. Namun malam itu memperlihatkan satu hal yang tidak berubah: ikatan emosional antara seorang putri daerah dan tanah tempat ia dilahirkan.

Perjalanan menuju kediamannya melalui kawasan Timbau berlangsung perlahan. Warga terus mengikuti, melambaikan tangan, dan menyampaikan salam. Tidak sedikit yang tampak terharu melihat momen yang selama ini hanya mereka bayangkan akhirnya menjadi kenyataan.

Di tengah kerumunan, Rita sempat menatap langit malam Tenggarong. Kota yang pernah ia tinggalkan kini kembali menyambutnya.

Malam itu bukan hanya tentang kepulangan seseorang. Bagi banyak warga yang hadir, malam itu adalah kisah tentang rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.

Editor : Dzulfikar

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut