KUTAI BARAT, iNewsKutai.id — Langit di atas Kutai Barat belum juga benar-benar bersih. Selama tiga hari berturut-turut, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan menyelimuti wilayah ini. Dampaknya kini tak hanya terasa di daratan. Penerbangan dari dan menuju Bandara Melalan, Melak, ikut terganggu.
Sejak Jumat, 28 Agustus 2026, sejumlah penerbangan terpaksa dibatalkan. Hingga Minggu, 30 Agustus, jarak pandang belum cukup aman bagi pesawat untuk lepas landas maupun mendarat.
Bagi penumpang, kabut asap berarti perjalanan yang tertunda. Namun bagi pengelola bandara, keputusan membatalkan penerbangan adalah pilihan yang tak bisa ditawar ketika keselamatan menjadi taruhannya.
Kepala Kantor UPBU Kelas III Melalan, Bernard Repelita Purba, mengatakan jarak pandang pada Minggu sempat membaik hingga sekitar 4 kilometer. Harapan penerbangan kembali dibuka sempat muncul. Tapi tak lama kemudian, visibilitas kembali turun menjadi sekitar 3 kilometer.
“Tadi sempat di angka 4 ribu, beberapa saat kemudian turun 3 ribu. Minimal 5 ribu kita bisa berangkatkan,” kata Bernard saat dikonfirmasi, Minggu.
Menurut dia, penerbangan dari Bandara Melalan membutuhkan jarak pandang sedikitnya 5 kilometer. Karena itu, membaiknya kondisi untuk sesaat belum cukup menjadi alasan untuk menerbangkan pesawat.
“Jadi kita masih menunggu perkembangan cuaca. Kalau jarak pandangnya bisa mencapai lima kilometer, penerbangan sudah memungkinkan untuk diberangkatkan,” ujarnya.
Gangguan akibat kabut asap telah berlangsung sejak Jumat. Sejumlah penerbangan Wings Air pada rute Samarinda dan Balikpapan menuju Melak maupun sebaliknya terdampak.
Pada Sabtu, penerbangan perintis rute Melak–Datah Dawai juga mengalami gangguan. Memasuki Minggu, kondisi belum banyak berubah. Jarak pandang masih naik-turun dan penerbangan kembali harus dibatalkan.
“Kejadian ini sudah terjadi sejak hari Jumat, kami membatalkan penerbangan,” kata Bernard.
Ia mengatakan maskapai tidak berani mengambil risiko ketika visibilitas berada di bawah batas aman.
“Mereka tidak berani memaksakan karena faktor yang paling utama itu keselamatan,” ujarnya.
Meski penerbangan terganggu, Bernard menegaskan Bandara Melalan tidak ditutup. Bandara tetap berstatus open. Pesawat dapat kembali beroperasi begitu kondisi cuaca dan jarak pandang memenuhi ketentuan keselamatan.
“Bandara masih open, bukan ditutup. Kalau kondisi memungkinkan dan jarak pandang memenuhi ketentuan, penerbangan tetap bisa dilakukan,” katanya.
Pihak UPBU masih terus memantau perubahan cuaca dan jarak pandang. Mereka berharap langit segera membaik sehingga konektivitas udara masyarakat Kutai Barat dapat kembali normal.
Namun tiga hari gangguan penerbangan itu sekaligus menunjukkan bahwa kebakaran lahan tak berhenti pada persoalan api di satu titik. Asapnya dapat bergerak, menutup pandangan, mengganggu kesehatan, hingga memutus sementara perjalanan masyarakat.
Karena itu, Bernard meminta warga tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.
“Peran masyarakat sangat dibutuhkan untuk saling menjaga iklim dan kondisi lingkungan,” ujarnya.
Ia berharap masyarakat memilih cara yang lebih aman dalam mengelola lahan. Bernard juga meminta aparat bertindak terhadap pihak yang sengaja melakukan pembakaran hingga menimbulkan kebakaran yang meluas.
“Saya berharap masyarakat tidak membuka lahan dengan membakar. Kalau perlu aparat menindak tegas para oknum itu,” kata Bernard.
Di Kutai Barat, dampak kebakaran kini tak hanya terlihat dari lahan yang menghitam. Selama tiga hari terakhir, dampaknya terasa pula di langit: ketika pesawat tak bisa terbang dan perjalanan warga harus menunggu asap pergi.
Editor : Dzulfikar
Artikel Terkait
