SAMARINDA, iNewsSamarinda.id — Kemarau panjang yang melanda Kalimantan Timur mulai memberikan dampak terhadap ketersediaan air bersih di Kota Samarinda.
Di tengah kondisi tersebut, jajaran Korem 091/Aji Surya Natakesuma (ASN) bersama masyarakat menggelar Salat Istisqa di halaman Korem 091/ASN, Sabtu (29/8/2026) pagi.
Salat Istisqa merupakan ikhtiar spiritual yang dilakukan untuk memohon kepada Tuhan agar hujan segera turun dan mengakhiri kemarau yang berlangsung.
Kegiatan tersebut diikuti Danrem 091/ASN Brigjen TNI Anggara Sitompul, Wali Kota Samarinda Andi Harun, serta masyarakat.
Danrem 091/ASN Brigjen TNI Anggara Sitompul mengatakan, kondisi kemarau membutuhkan ikhtiar bersama. Selain melakukan penanganan terhadap dampak kekeringan di lapangan, masyarakat juga diajak memperkuat ikhtiar melalui doa.
“ Kondisi kemarau saat ini membutuhkan ikhtiar bersama, baik melalui langkah penanganan maupun pendekatan spiritual,” ujar Anggara.
Intake Air Baku Mulai Terdampak
Wali Kota Samarinda Andi Harun mengatakan kondisi kekeringan saat ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Menurut dia, Samarinda telah memasuki fase siaga menghadapi kekeringan. Pemkot Samarinda bahkan menetapkan status darurat kekeringan selama 14 hari yang selanjutnya akan dievaluasi berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan.
Dampak kemarau mulai dirasakan pada sejumlah intake air baku yang menjadi bagian penting dalam penyediaan air bersih masyarakat.
Beberapa lokasi yang terdampak berada di wilayah Palaran, Pulau Atas, Bukuan dan Bantuas.
“Dampak kekeringan salah satunya dirasakan pada sejumlah intake air baku, khususnya di wilayah Palaran, Pulau Atas, Bukuan dan Bantuas,” kata Andi Harun.
Air Mahakam Surut, Kadar Klorida Meningkat
Persoalan tidak hanya disebabkan oleh berkurangnya debit air. Surutnya Sungai Mahakam juga menyebabkan kadar klorida meningkat di sejumlah lokasi intake.
Kondisi tersebut membuat pemerintah harus mengambil langkah antisipasi untuk menjaga kualitas air baku yang akan diolah menjadi air bersih.
Andi Harun menyebut kadar klorida di kawasan Bantuas bahkan sempat mencapai 250 ppm.
“Bahkan di Bantuas, kadar klorida sempat menembus ambang batas 250 ppm, sehingga intake sementara harus dihentikan demi menjaga kualitas air bersih,” jelasnya.
Menurut Andi Harun, kondisi tersebut dapat berubah dengan cepat karena dipengaruhi pasang surut Sungai Mahakam.
Karena itu, pemerintah terus melakukan pemantauan terhadap kondisi air baku untuk memastikan pelayanan air bersih kepada masyarakat tetap berjalan.
Ancaman Karhutla Ikut Meningkat
Kemarau panjang juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Samarinda.
Andi Harun mengatakan pemerintah daerah tidak hanya berfokus pada persoalan air, tetapi juga memperkuat pengawasan terhadap potensi kebakaran.
Ia menilai sebagian kebakaran lahan yang terjadi di Samarinda diduga bukan semata-mata akibat faktor alam, tetapi juga dipicu oleh ulah oknum.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pemkot Samarinda meningkatkan patroli bersama masyarakat serta memanfaatkan jaringan CCTV yang tersebar di berbagai wilayah.
Menurutnya, pengawasan diperlukan untuk mencegah kebakaran meluas dan memastikan setiap titik api dapat segera ditangani.
Di tengah ancaman kekeringan, krisis air baku dan karhutla, pemerintah bersama TNI-Polri dan masyarakat terus melakukan berbagai langkah penanganan.
Salat Istisqa menjadi salah satu bentuk ikhtiar spiritual masyarakat Samarinda dan Kalimantan Timur, sembari upaya teknis tetap dilakukan untuk menghadapi dampak kemarau panjang.
Andi Harun berharap hujan segera turun sehingga kondisi Sungai Mahakam kembali normal, ketersediaan air baku membaik, serta ancaman karhutla dapat ditekan.
“Yang kita lakukan hari ini adalah bagian dari ikhtiar kita bersama. Kita tetap berusaha secara teknis, sekaligus berdoa agar hujan segera turun,” ujarnya.
Editor : Dzulfikar
Artikel Terkait
