get app
inews
Aa Text
Read Next : Dugaan Keracunan MBG di Kukar, Dinkes Kirim Sampel Makanan ke BPOM, SPPG Sebulu Tutup Sementara

Siswa di Kukar Bertaruh Nyawa Naik Kereta Gantung demi Sekolah, Warga Desak Dibangun Jembatan

Rabu, 22 Juli 2026 | 22:49 WIB
header img
Foto: Potret perjuangan pelajar di Desa Santan Ulu, Marang Kayu, Kukar, yang setiap hari menggunakan kereta gantung menuju sekolah.

TENGGARONG, iNewsKutai.id – Perjuangan menuntut ilmu masih menjadi tantangan berat bagi puluhan siswa di Desa Santan Ulu, Kecamatan Marang Kayu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Setiap hari mereka harus mempertaruhkan keselamatan dengan menyeberangi sungai menggunakan kereta gantung sederhana karena hingga kini belum tersedia jembatan penghubung.

Kereta gantung yang dibangun secara swadaya oleh warga itu menjadi akses tercepat menuju sekolah. Setiap pagi sebelum pelajaran dimulai dan siang saat pulang sekolah, para siswa harus menarik sendiri tali baja agar kereta dapat bergerak melintasi sungai selebar sekitar 45 meter dengan arus yang cukup deras.

Meski menyadari risiko yang mengintai, mereka tetap menjalani rutinitas tersebut demi mendapatkan pendidikan.

Kereta gantung itu telah dimanfaatkan masyarakat selama sekitar enam tahun. Fasilitas sederhana tersebut dibangun melalui gotong royong warga karena jika tidak menggunakannya, mereka harus memutar jalan hingga sekitar sembilan kilometer. Dengan adanya kereta gantung, jarak tempuh menuju sekolah maupun kebun menjadi sekitar dua kilometer.

Salah seorang warga sekaligus orang tua siswa, Solihun, mengatakan kereta gantung menjadi solusi sementara yang sangat membantu masyarakat menjalankan aktivitas sehari-hari.

"Itulah satu-satunya solusi yang kami buat. Kereta gantung ini bisa digunakan orang maupun sepeda motor. Kalau sebelumnya harus menempuh perjalanan sekitar sembilan kilometer, sekarang cukup sekitar dua kilometer," katanya.

Menurut Solihun, keberadaan kereta gantung tidak hanya memudahkan anak-anak berangkat sekolah, tetapi juga membantu warga mengangkut hasil kebun dan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

"Alhamdulillah sangat bermanfaat. Ini menjadi kemudahan yang luar biasa bagi masyarakat," ujarnya.

Namun di balik manfaat tersebut, ancaman keselamatan tetap menjadi persoalan utama. Saat hujan turun dan debit sungai meningkat, arus menjadi semakin deras sehingga proses penyeberangan jauh lebih berbahaya. Kondisi itu juga kerap membuat para siswa terlambat tiba di sekolah.

Solihun menegaskan kereta gantung bukanlah solusi jangka panjang. Dia berharap pemerintah segera membangun jembatan permanen agar masyarakat, khususnya anak-anak sekolah, tidak lagi mempertaruhkan nyawa setiap hari.

"Kami sangat berharap pemerintah bisa membangunkan jembatan. Kereta gantung ini memang membantu, tetapi tetap berisiko, apalagi kalau musim hujan atau air sungai sedang besar. Kami ingin anak-anak sekolah bisa menyeberang dengan aman," ucapnya.

Kondisi tersebut juga menjadi perhatian pihak sekolah. Kepala SD Negeri 021 Marang Kayu, Badil, mengatakan pihaknya memahami kesulitan yang dihadapi para siswa sehingga memberikan kebijakan khusus apabila cuaca tidak memungkinkan untuk menyeberangi sungai.

Menurutnya, keselamatan peserta didik jauh lebih penting daripada memaksakan mereka hadir ke sekolah dalam kondisi berbahaya.

"Kalau hujan deras dan kondisi di sana tidak memungkinkan, kami memberikan kebijaksanaan kepada siswa untuk mengikuti pembelajaran secara daring. Kalau terlambat juga kami maklumi karena memang kondisi mereka berbeda dengan siswa lainnya," kata Badil.

Dia berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan jembatan permanen agar para siswa dapat berangkat dan pulang sekolah dengan aman tanpa dihantui risiko kecelakaan saat menyeberangi sungai.

Keberadaan jembatan juga diyakini akan memperlancar mobilitas masyarakat menuju kebun, lahan pertanian, hingga pusat pelayanan publik sehingga dapat mendorong peningkatan perekonomian warga.

Selama jembatan belum terbangun, kereta gantung sederhana itu masih menjadi tumpuan utama masyarakat Desa Santan Ulu. Di balik konstruksinya yang sederhana, fasilitas tersebut menjadi simbol perjuangan warga dalam mengatasi keterbatasan infrastruktur sekaligus memastikan anak-anak tetap dapat mengenyam pendidikan.

Bagi para siswa di Desa Santan Ulu, perjalanan menuju sekolah bukan sekadar rutinitas harian. Setiap kali menyeberangi sungai menggunakan kereta gantung, mereka harus mengumpulkan keberanian demi mengejar cita-cita, sembari berharap suatu hari nanti jembatan permanen benar-benar berdiri dan mengakhiri perjuangan berisiko yang telah mereka jalani selama bertahun-tahun.

Editor : Dzulfikar

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut