SAMARINDA, iNewsSamarinda.id - Konsep berbeda hadir dalam forum literasi publik yang digelar pada Diskusi Publik Hari Kartini di Perpustakaan Kota Samarinda, Sabtu (25/4/2026). Dalam kegiatan ini, empat narasumber sekaligus bertindak sebagai host tanpa moderator khusus.
Keempat pembicara tersebut yakni Inui Nurhikmah selaku Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Samarinda, Inni Indarpuri sebagai penulis biografi tokoh perempuan Kaltim, Alisya Anastasya dari The Femme Lit Society, serta sejarawan publik Muhammad Sarip.
Diskusi ini diikuti sekitar 90 peserta. Sebanyak 20 orang di antaranya mendapat kesempatan menyampaikan argumen maupun pertanyaan secara langsung.
Mengusung tema “Perempuan Kaltim Dulu dan Kini: Setara Belum? Aman Belum?”, forum ini membahas beragam isu. Mulai dari sejarah perempuan di Kaltim, mitos Kartini, pro dan kontra feminisme, kekerasan berbasis gender, hingga fenomena penulis problematik dan cancel culture.
Muhammad Sarip menegaskan, kesetaraan dan keadilan gender tidak cukup dimaknai sebagai agenda seremonial saat Hari Kartini. Ia menilai praktik egaliter justru terlihat dalam jalannya forum.
“Petugas registrasi saat acara dimulai ikut menjadi peserta. Tidak ada yang tertinggal di luar. Semua yang ingin berbicara diberi kesempatan yang sama. Menurut keyakinan saya, forum ini memecahkan rekor jumlah penanya terbanyak di Samarinda,” ujarnya.
Alisya Anastasya atau Anna, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman, menyoroti pemaknaan terhadap Kartini. Ia menilai, Kartini tidak semata-mata identik dengan kebaya.
“Tidak ada yang salah dengan kebaya. Tapi ketokohan Kartini itu sebenarnya bukan ikon kebaya. Ada substansi pemikiran dia tentang feminisme atau perjuangan perempuan untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender,” papar gen Z yang biasa disapa Anna itu.
Sementara itu, Inni Indarpuri mengungkapkan bahwa buku biografi Meiliana yang ia tulis juga memuat kisah Lasiah Sabirin. Tokoh ini dinilai memberi teladan bagi perempuan untuk terus belajar.
“Ibu dari Meilina menunjukkan semangat belajar tinggi, bahkan sampai ke luar pulau pada era 1950-an, saat fasilitas masih terbatas,” katanya.
Inui Nurhikmah yang juga pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Samarinda memaparkan kondisi perempuan dalam dunia perbukuan, mulai dari tingkat global hingga lokal di Kaltim. Ia juga berbagi pengalaman tentang penerapan kesetaraan gender dalam kehidupan rumah tangga.
Ketua Lasaloka-KSB, Fajar Alam, menyatakan, komunitasnya berkolaborasi dengan Dispursip, IPI Samarinda, dan The Femme Lit Society dalam penyelenggaran forum diskusi hari ini.
Editor : Dzulfikar
Artikel Terkait
