Pelajar Samarinda Pentaskan “RT Nol RW Nol”, Cerita Kehidupan yang Menyentuh

Ardi Wiriya
Foto: Kelompok Teater Mahardika dari SMAN 8 Samarinda, mementaskan naskah klasik RT Nol RW di Taman Budaya Kalimantan Timur

SAMARINDA, iNewsSamarinda.id - Kelompok Teater Mahardika dari SMAN 8 Samarinda kembali naik panggung setelah lama vakum. Mereka mementaskan naskah klasik RT Nol RW Nol karya Iwan Simatupang di Taman Budaya Kalimantan Timur, Minggu malam (26/4/2026).

Pementasan ini menjadi tanda kembalinya aktivitas teater pelajar tersebut setelah sekitar tujuh tahun tidak tampil. Para siswa mencoba menghadirkan kembali karya sastra dengan pendekatan yang lebih mudah dipahami penonton.

Naskah RT Nol RW Nol dikenal sebagai karya bergaya absurd. Ceritanya menggambarkan kehidupan masyarakat pinggiran, tentang keterbatasan, kesepian, dan pencarian makna hidup. Meski ditulis puluhan tahun lalu, isinya dinilai masih relevan dengan kondisi sosial saat ini.

Di atas panggung, para pemain tampil cukup meyakinkan. Wahyu memerankan tokoh Kakek dengan emosi yang kuat. Roji sebagai Pincang tampil dengan karakter yang khas. Sementara Reda (Ani), Aji (Ina), Reyhan (Bopeng), dan Haura (Ati) membangun interaksi yang hidup sepanjang pertunjukan.

Selain akting, unsur teknis turut mendukung suasana. Tata suara, pencahayaan, hingga penataan panggung berhasil membangun nuansa dramatis. Seluruh jalannya pertunjukan dikendalikan oleh stage manager, sehingga alur tetap terjaga.

Pementasan ini disutradarai oleh Haura, yang juga ikut bermain sebagai aktor. Ia mencoba menyederhanakan naskah yang kompleks agar lebih mudah dipahami tanpa menghilangkan pesan utamanya.

Bagi penonton, pertunjukan ini tidak sekadar hiburan. Mereka diajak melihat realitas kehidupan masyarakat kecil sekaligus merenungkan arti keberadaan manusia.

Salah satu penonton, Ardi, menilai pesan yang disampaikan cukup kuat.
“Para pemain bisa menghidupkan karakter dengan baik. Apalagi ini naskah yang tidak mudah,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi kembalinya Teater Mahardika. Menurutnya, menjaga keberlanjutan teater pelajar bukan hal sederhana dan perlu dukungan banyak pihak.

Sementara itu, penonton lain, Fajri, memberi catatan pada sisi teknis. Ia menilai kondisi gedung pertunjukan masih menjadi tantangan.
“Ada dialog yang terlalu cepat, jadi kurang jelas terdengar,” katanya.

Meski begitu, ia tetap mengapresiasi semangat para pelajar yang kembali berkarya di panggung teater.

Pementasan ini menjadi penanda bahwa ruang kreatif pelajar di Samarinda masih hidup, meski dengan segala keterbatasan.

Editor : Dzulfikar

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network