Takut Dianggap Mandul, Pasutri di Bontang Rekayasa Kehamilan hingga Kematian Bayi

Ardi Wiriya
Foto : Suasana prosesi pemakaman bayi yang videonya sempat viral di media sosial. Belakangan, Polres Bontang mengungkap kisah kehamilan dan kematian bayi tersebut merupakan rekayasa pasangan suami istri.

BONTANG, iNewsKutai.id – Sebuah cerita tentang kehilangan bayi sempat mengundang simpati publik di Bontang, Kalimantan Timur. Namun, setelah ditelusuri polisi, kisah yang menyebar melalui media sosial itu ternyata dibangun dari kebohongan.

Seorang perempuan berinisial AR mengaku hamil, melahirkan, lalu kehilangan bayinya setelah menjalani persalinan di RS Yabis Bontang. Cerita tersebut bahkan diperkuat dengan video pemakaman yang beredar di media sosial.

Belakangan, polisi mengungkap tidak pernah ada kehamilan maupun persalinan seperti yang diceritakan AR. Perempuan itu bersama suaminya, DN, mengakui telah merekayasa seluruh kisah tersebut.

Kasus ini bermula ketika informasi mengenai kematian bayi itu ramai diperbincangkan di Facebook. Narasi yang beredar turut menyeret nama RS Yabis sebagai tempat persalinan.

Polres Bontang kemudian melakukan penelusuran. Petugas mendatangi kediaman AR untuk meminta penjelasan mengenai kehamilan dan bayi yang disebut meninggal setelah dilahirkan.

Humas Polres Bontang, IPTU Dani Purwantoro, mengatakan hasil klarifikasi menunjukkan cerita tersebut tidak benar.

“Iya, itu direkayasa dan diakui yang bersangkutan. Yang bersangkutan mengaku hamil, padahal faktanya tidak ada kehamilan. Jadi, jasad yang dimakamkan kemarin itu memang buatan saja,” kata Dani, Jumat (30/10/2026).

Rekam medis membantah cerita persalinan

Polisi tidak hanya mengandalkan pengakuan AR. Penyidik juga meminta keterangan dari pihak RS Yabis untuk memeriksa kemungkinan adanya riwayat persalinan.

Hasil penelusuran rekam medis menunjukkan AR tidak pernah tercatat sebagai pasien persalinan di rumah sakit tersebut.

Riwayat pemeriksaan yang ditemukan justru menunjukkan AR pernah datang pada Senin, 26 Oktober 2026, dengan keluhan keterlambatan menstruasi.

Temuan itu mematahkan cerita mengenai kehamilan, persalinan, hingga kematian bayi yang telanjur menyebar di ruang digital.

Dari pemeriksaan polisi, motif di balik rekayasa tersebut berkaitan dengan tekanan keluarga. AR disebut takut dianggap tidak mampu memiliki keturunan, baik oleh keluarganya sendiri maupun keluarga suaminya.

Ketakutan itu kemudian melibatkan DN. Keduanya menyusun cerita seolah-olah AR telah menjalani kehamilan dan kehilangan bayi setelah melahirkan.

“AR bersama suaminya, DN, nekat membuat cerita penukaran bayi lantaran AR merasa takut dianggap tidak bisa memberikan keturunan oleh pihak keluarga maupun keluarga mertuanya,” ujar Dani.

Nama rumah sakit ikut terseret

Rekayasa tersebut tidak berhenti sebagai persoalan internal keluarga. Penyebaran cerita di media sosial membuat RS Yabis ikut menjadi perhatian publik.

Setelah fakta terungkap, Polres Bontang memfasilitasi pertemuan antara AR dan DN, keluarga kedua belah pihak, serta manajemen rumah sakit.

Dalam video klarifikasi yang beredar, keduanya menyampaikan permintaan maaf kepada pihak rumah sakit dan masyarakat Bontang.

AR mengakui cerita mengenai kehamilan dan kematian bayi tersebut merupakan rekayasa yang berasal dari dirinya.

“Melalui video ini kami meminta maaf sebesar-besarnya kepada pihak yang dirugikan dan masyarakat Kota Bontang atas kegaduhan ini. Ide itu merupakan rekayasa saya sendiri,” ujar AR.

Kasus ini memperlihatkan bagaimana tekanan sosial mengenai keturunan dapat berkembang menjadi persoalan yang lebih luas ketika seseorang memilih membangun cerita palsu untuk memenuhi ekspektasi lingkungan.

Di sisi lain, penyebaran informasi yang belum terverifikasi membuat sebuah narasi mudah dipercaya, bahkan sebelum pihak-pihak terkait mendapat kesempatan memberikan penjelasan.

Polres Bontang mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai maupun menyebarkan informasi yang belum dipastikan kebenarannya.

“Kami mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya dan menyebarkan informasi yang belum dipastikan kebenarannya. Pastikan terlebih dahulu setiap informasi melalui sumber resmi agar tidak menimbulkan keresahan maupun merugikan pihak lain,” kata Dani.

Kisah yang semula dibingkai sebagai tragedi kehilangan bayi itu akhirnya berubah menjadi perkara rekayasa. Di tengah derasnya arus informasi digital, kasus ini kembali menunjukkan bahwa viralitas bukanlah ukuran kebenaran.

Editor : Dzulfikar

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network