Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Pekerja Kafe Samarinda-Balikpapan Perkuat Kompetensi Jelang Perkembangan IKN
Advertisement . Scroll to see content

Buku Sarekat Islam di Kaltim Diluncurkan, Buku Sejarah Nasional Versi Kemenbud Dikritik

Kamis, 10 September 2026 | 20:54 WIB
  • author Azizah
Buku Sarekat Islam di Kaltim Diluncurkan, Buku Sejarah Nasional Versi Kemenbud Dikritik
Foto: Desainer sampul buku Sarekat Islam di Kaltim, Paramitha Putri Hidayat menjelaskan konsep desain buku karya Muhammad Sarip di Disdikbud Samarinda, 10 September 2026.

SAMARINDA, iNewsSamarinda.id - Sejarah Indonesia ternyata belum selesai diperdebatkan. Dari persoalan siapa yang layak disebut pelopor kebangkitan nasional, dominasi narasi sejarah Jawa, hingga dugaan ketidakkonsistenan sumber dalam buku sejarah terbitan pemerintah, semuanya mengemuka dalam peluncuran buku Sarekat Islam di Kaltim, Kamis (10/9/2026).

Buku berjudul “Sarekat Islam di Kalimantan Timur: Sejarah Perjuangan dari Pasar Pagi Samarinda, Istana Kutai, hingga Perang Sultan Paser” resmi diluncurkan di Ruang Ki Hajar Dewantara, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Samarinda.

Peluncuran sekaligus diskusi publik itu menghadirkan sejumlah pemerhati sejarah lokal. Di antaranya sejarawan publik sekaligus penulis sejarah Muhammad Sarip, Kaprodi Pendidikan Sejarah FKIP Unmul Rizal Izmi Kusumawijaya, serta pengajar sejarah MA Darussalam Internasional Boarding School Muhammad Ilham Syahputra.

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Samarinda Barlin Hady Kesuma menyampaikan rasa syukur karena di tengah efisiensi anggaran dapat berkolaborasi dengan Lasaloka-KSB menyelenggarakan sebuah forum diskusi publik tentang sejarah organisasi pergerakan nasional pertama di Kaltim.

Sementara itu, Sarip menjelaskan, buku Sarekat Islam di Kaltim sengaja ditulis dengan gaya bahasa kekinian. Menurut dia, terdapat gap bahasa ketika sejarah ditulis menggunakan bahasa baku yang tidak lagi akrab dengan pembaca masa kini.

“Banyak perubahan pada kata yang dulu dipakai dengan yang sekarang,” kata Sarip saat mengawali diskusi.

Dalam proses penyuntingan, Sarip dibantu proofreader sekaligus desainer sampul, Paramitha Putri Hidayat. 

“Saya mendesain cover buku ini menggunakan sebuah aplikasi yang gratisan, tapi cukup lengkap fiturnya, dan tidak menggunakan AI,” ujar Mitha, sapaan akrabnya.

Rizal Izmi yang mengajar di Prodi Pendidikan Sejarah memaparkan kontroversi narasi Hari Kebangkitan Nasional yang selama ini diperingati setiap 20 Mei. Tanggal tersebut merujuk pada berdirinya Budi Utomo pada 1908 dan ditetapkan Presiden Soekarno pada 1959.

Jika tonggak Kebangkitan Nasional dihitung dari berdirinya organisasi, tanggal yang lebih awal justru adalah 16 Oktober 1905. Saat itu Sarekat Dagang Islam, organisasi yang kemudian berkembang menjadi Sarekat Islam, berdiri.

“Pergerakan Sarekat Islam juga bukan sebagai organisasi keagamaan, tetapi pada sosial ekonomi. Makanya kalau kita mengetahui ada istilah masjid NU, masjid Muhammadiyah, tapi kita tidak pernah mendengar ada masjid Sarekat Islam,” ujar Rizal.

Rizal mengaku pernah mengunjungi Kantor Sarekat Islam Kaltim di Jalan Panglima Batur melalui kegiatan Walking Tour bersama M. Ilham Syahputra, yang di forum ini juga menjadi pembicara.

“Saya kuliah S-2 di Solo dan menemukan kemiripan pola eksistensi Sarekat Islam di Solo dengan Samarinda, yaitu sebagai perlawanan terhadap ketidakadilan pemerintah kolonial Belanda,” papar Ilham.

Forum diskusi juga menghadirkan Ketua DPW Syarikat Islam Kalimantan Timur, Anas Yusfiuddin.

Anas menjelaskan, cikal bakal Sarekat Islam berawal dari masyarakat di Kampung Pasar Pagi Samarinda, dengan para tokohnya antara lain Haji Ali Barack dan pembakal Anang Matarip.

Di tengah peluncuran buku tersebut, Sarip juga menyampaikan kritik terhadap buku “Sejarah Indonesia” Jilid I hingga V yang dirilis Kementerian Kebudayaan.

“Saya sudah sering bilang, sejarah nasional yang diklaim Indonesia-sentris itu hakikatnya adalah sejarah Jawa. Secuil narasi peristiwa dan tokoh di Kaltim hanya sekadar tempelan,” tegasnya.

Ia mencontohkan narasi mengenai Kerajaan di Kutai sebagai kerajaan tertua di Nusantara. Dalam buku Sejarah Indonesia Jilid II, pembahasan mengenai kerajaan yang berbasis prasasti yupa ini hanya sekitar 15 halaman dan dinilai belum mengungkap secara mendalam figur Raja Mulawarman dan Aswawarman.

Hal itu berbeda dengan sejarah Majapahit yang ditulis dalam ratusan halaman pada beberapa bab.

“Padahal buku Sejarah Indonesia Jilid II terbitan 2026 isinya mencapai 1.190 halaman,” kata Sarip.

Kapasitas ruangan sebanyak 60 kursi semuanya terisi penuh. Semua peserta yang bertanya dalam forum ini mendapatkan hadiah berupa buku cetaknya.

Editor: Dzulfikar

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut