Menurut dia, perlindungan santri perlu menjadi perhatian bersama agar persoalan yang pernah muncul di lingkungan pendidikan keagamaan di daerah lain tidak terjadi di Kukar.
“Mudah-mudahan apa yang mungkin terjadi di tempat lain, tidak terjadi di Kukar,” tegasnya.
Selain perlindungan anak, Sunggono menilai pesantren memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi muda yang mampu menghadapi perkembangan zaman.
Santri, kata dia, tidak cukup hanya dibekali pengetahuan agama. Penguasaan teknologi, kemampuan berinovasi, dan kemandirian juga diperlukan agar mereka mampu berkontribusi dalam pembangunan.
“Santri bukan hanya menguasai bidang agama tapi juga bisa menjadi bagian penting dari pembangunan bangsa,” katanya.
Peringatan Hari Santri tahun ini mengusung tema Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas. Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran Forkopimda dan kepala organisasi perangkat daerah di lingkungan Pemkab Kukar.
Selain upacara, rangkaian kegiatan diisi penyerahan bantuan sembako dan santunan melalui Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (Lazisnu) kepada perwakilan santri dan pondok pesantren.
Kebersamaan ribuan santri kemudian berlanjut melalui tradisi beseprah atau makan bersama di area parkir Kantor Bupati Kukar.
Melalui momentum tersebut, Pemkab Kukar berharap pondok pesantren tidak hanya melahirkan generasi yang berilmu dan berakhlak, tetapi juga memastikan setiap santri mendapatkan lingkungan belajar yang aman dan terlindungi.
Editor : Suriya Mohamad Said
Artikel Terkait
