Batu Bara Dikeruk, Listrik Kukar Bergilir Padam: Siapa Menanggung Kerugian Warga?

Dzulfikar Ash
Foto : Tongkang pengangkut batu bara melintasi Sungai Mahakam di Kutai Kartanegara. Di tengah melimpahnya sumber daya alam, masyarakat masih menghadapi pemadaman listrik bergilir yang mengganggu aktivitas dan memukul pendapatan pelaku usaha kecil.

TENGGARONG, iNewsKutai.id — Dari perut bumi Kutai Kartanegara (Kukar), batu bara dikeruk untuk menopang industri dan kebutuhan energi. Namun, di daerah yang kaya sumber daya alam itu, masyarakat justru harus berhadapan dengan pemadaman listrik bergilir yang tak kunjung berakhir.

Bagi sebagian warga, listrik padam mungkin hanya berarti rumah mendadak gelap. Bagi pelaku usaha kecil, satu kali pemadaman bisa berarti pelanggan kecewa, pekerjaan terbengkalai, peralatan rusak, dan pendapatan yang hilang. Ketika pemadaman berulang selama berbulan-bulan, persoalannya bukan lagi sekadar gangguan teknis. Ia telah menjadi beban ekonomi yang harus ditanggung masyarakat.

Agung Prasetyo, Ketua Komunitas Barbershop Tenggarong, merasakan langsung dampaknya. Di tengah kondisi ekonomi yang tidak mudah, usaha pangkas rambut yang semestinya menjadi sumber penghidupan justru berkali-kali terhenti ketika listrik padam.

Mesin cukur dan hair dryer yang menjadi alat utama pekerjaannya ikut terdampak. Pelanggan yang sudah duduk di kursi pangkas bisa terpaksa menunggu, sementara pekerjaan yang belum selesai tak selalu dapat dilanjutkan sesuai rencana.

“Lagi ramai-ramainya usaha, malah mati lampu. Baru motong rambut setengah, tiba-tiba padam. Masa iya pelanggan disuruh datang besok untuk melanjutkan potong rambutnya?” kata Agung.

Kalimat itu menggambarkan persoalan yang sering luput ketika pemadaman listrik hanya dibicarakan melalui angka beban daya dan penjelasan teknis. Di balik setiap jadwal pemadaman, ada pekerja yang kehilangan waktu produktif, pelanggan yang kehilangan kenyamanan, dan pemilik usaha yang harus menanggung risiko kerugian.

Agung memperkirakan kerugian usahanya mencapai Rp600 ribu hingga Rp700 ribu per hari. Angka tersebut, menurut dia, berasal dari dampak gangguan operasional yang berulang. Nilainya masih berupa perkiraan pemilik usaha, tetapi cukup menggambarkan beratnya beban yang dirasakan pelaku usaha kecil.

“Mesin cukur dan hair dryer kami rusak karena sering mati lampu. Kami sedang berusaha menjalankan usaha, tetapi listrik justru menjadi kendala,” ujarnya.

Pemadaman yang disebut telah berlangsung lebih dari tiga bulan itu membuat keresahan semakin menumpuk. Bagi usaha yang mengandalkan pelayanan langsung, waktu adalah pendapatan. Ketika listrik berhenti, pekerjaan ikut berhenti, sementara kebutuhan operasional tidak ikut menghilang.

Persoalan itu kemudian dibawa Agung bersama Jordi, perwakilan masyarakat, dalam audiensi dengan Manager Umum PLN ULP Tenggarong, Dwi Haryadi, pada Senin sore sekitar pukul 16.00 Wita.

Pertemuan tersebut menjadi ruang bagi warga untuk mempertanyakan alasan pemadaman bergilir yang terus terjadi. Jordi mengatakan masyarakat membutuhkan penjelasan yang terang, bukan sekadar pemberitahuan bahwa listrik akan dipadamkan.

“Kami ingin tahu mengapa ada pemadaman bergilir ini. Bagaimana mereka menentukan jam pemadaman? Kalau alasannya pemeliharaan dan perbaikan, perbaikannya di mana dan apa yang diperbaiki?” kata Jordi.

Pertanyaan itu menyentuh persoalan mendasar dalam pelayanan publik: kepastian informasi. Masyarakat bukan hanya membutuhkan listrik, tetapi juga berhak memperoleh penjelasan mengenai penyebab gangguan, wilayah terdampak, durasi pemadaman, dan langkah yang ditempuh untuk mengatasinya.

Tanpa informasi yang memadai, warga sulit merencanakan aktivitas. Pelaku usaha bahkan harus menghadapi ketidakpastian yang dapat langsung memengaruhi pendapatan mereka.

Di sisi lain, Dwi Haryadi menjelaskan bahwa pemadaman bergilir dilakukan karena pasokan listrik yang tersedia belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan pelanggan. Menurut dia, tanpa pembatasan pasokan, risiko pemadaman total dapat terjadi.

“Ketika tidak ada pemadaman bergilir, malah bisa padam total. Listrik yang disediakan PLN tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Makanya dikurangi supaya tidak padam total dan masyarakat tetap bisa menikmati listrik,” kata Dwi.

Penjelasan tersebut memperlihatkan adanya persoalan antara ketersediaan pasokan dan kebutuhan listrik. Namun, bagi warga yang terdampak, alasan teknis itu belum menjawab pertanyaan paling mendesak: kapan listrik kembali normal dan berapa lama mereka harus terus menanggung kerugian?

Masyarakat juga membutuhkan kejelasan mengenai langkah konkret PLN untuk mengatasi kekurangan pasokan, termasuk penyebab teknis yang mendasarinya dan target penyelesaian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Di sinilah ironi energi Kukar menjadi sulit diabaikan. Daerah ini dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil batu bara di Kalimantan Timur, tetapi kekayaan sumber daya alam tersebut tidak otomatis membuat pasokan listrik lokal selalu mencukupi. Produksi batu bara, pembangkitan listrik, kapasitas jaringan, dan distribusi merupakan mata rantai berbeda. Karena itu, besarnya produksi batu bara tidak dengan sendirinya menjamin listrik menyala tanpa gangguan.

Meski demikian, perbedaan rantai pasok energi bukan alasan untuk mengabaikan tuntutan masyarakat atas pelayanan yang andal. Jika pasokan memang terbatas, warga berhak mengetahui penyebabnya, upaya penanganannya, serta kepastian waktu pemulihan.

Bagi Agung, persoalan itu tidak selesai ketika audiensi berakhir. Esok hari, ia tetap harus membuka usaha dengan risiko yang sama: listrik bisa padam ketika pelanggan sedang ramai, mesin bisa terganggu, dan pekerjaan bisa terhenti di tengah jalan.

Di tengah pembicaraan mengenai kekayaan sumber daya alam dan ketahanan energi, pengalaman Agung menjadi pengingat bahwa keberhasilan sistem kelistrikan tidak cukup diukur dari seberapa besar sumber daya yang dihasilkan. Ukurannya juga terletak pada apakah masyarakat dapat menikmati layanan yang stabil dan menjalankan usaha tanpa terus dihantui ketidakpastian.

Sebab, bagi warga yang menggantungkan hidup pada usaha kecil, listrik bukan sekadar arus yang mengalir melalui kabel. Listrik adalah waktu kerja, kepercayaan pelanggan, biaya perawatan peralatan, dan uang yang dibawa pulang untuk keluarga.

Dan ketika listrik berulang kali padam di daerah yang kaya batu bara, pertanyaan warga menjadi sederhana, tetapi mendasar: sampai kapan mereka harus menanggung akibat dari pasokan yang tidak mencukupi?

Editor : Dzulfikar

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network