TENGGARONG SEBERANG, iNewsKutai.id — Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin mampu menghasilkan tulisan, gambar, dan beragam karya digital. Namun, bagi Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri, kemampuan menghasilkan karya bukan satu-satunya ukuran keberhasilan teknologi. Dampaknya bagi manusia justru menjadi hal yang lebih penting.
Pandangan itu disampaikan Aulia dalam sambutannya pada kegiatan Gemini World di PKM Putri Karang Melenu, Tenggarong Seberang. Ia menilai kegiatan tersebut berbeda dari festival kecerdasan buatan yang umumnya menitikberatkan pada produk atau karya yang dihasilkan peserta.
“Ketika kita berbicara terkait Gemini World, titik beratnya adalah pada dampak yang ditimbulkan oleh aktivitas AI itu sendiri,” ujar Aulia.
Pernyataan itu menempatkan teknologi bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana untuk menjawab kebutuhan manusia. Dalam pendidikan, penggunaan AI semestinya tidak berhenti pada kecanggihan aplikasi atau kecepatan menyelesaikan pekerjaan. Teknologi juga perlu dinilai dari manfaatnya bagi proses belajar dan perkembangan peserta didik.
Aulia menghubungkan gagasan tersebut dengan perubahan paradigma dari masyarakat berbasis teknologi menuju Society 5.0, yang menempatkan manusia dan kebutuhan sosial sebagai perhatian utama.
Menurut dia, kecanggihan teknologi tidak serta-merta menghapus peran guru. Justru di tengah semakin luasnya penggunaan AI, pendidik tetap dibutuhkan untuk memberikan arah, nilai, dan pemahaman terhadap informasi yang diperoleh siswa.
“AI boleh, akan tetapi dia hanya sebatas alat, bukan dia yang menentukan tujuan kita,” katanya.
Aulia menegaskan bahwa guru tetap menjadi pemimpin dalam pemanfaatan teknologi di ruang pendidikan. Guru tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membangun hubungan emosional dengan murid, menanamkan nilai, dan memberikan harapan tentang masa depan.
Hubungan itu, menurut dia, tidak sebatas interaksi belajar-mengajar. Ada kedekatan yang menyerupai hubungan orang tua dan anak, sekaligus tanggung jawab untuk membimbing generasi muda agar tumbuh menjadi manusia yang lebih baik.
Pandangan tersebut menjadi penting ketika AI semakin mudah digunakan untuk memperoleh jawaban dan menyelesaikan berbagai tugas. Kemudahan itu membuka peluang dalam pembelajaran, tetapi tetap membutuhkan pendampingan agar siswa tidak sekadar menerima hasil tanpa memahami proses, konteks, dan konsekuensinya.
Dalam sambutannya, Aulia juga mengapresiasi terpilihnya Kutai Kartanegara sebagai salah satu dari 10 daerah pelaksana Festival Lokal Berdampak 2026, berdasarkan informasi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut. Ia mengaitkan pencapaian itu dengan keaktifan para guru dalam mendorong kegiatan pendidikan di daerah.
Bagi Aulia, pemanfaatan AI pada akhirnya harus tetap berpusat pada manusia. Teknologi dapat membantu mempercepat pekerjaan dan memperluas akses terhadap pengetahuan, tetapi tujuan pendidikan tidak cukup diukur dari seberapa banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan oleh mesin.
Di ruang kelas, keberhasilan tetap ditentukan oleh bagaimana pengetahuan membentuk pemahaman, bagaimana pendampingan menumbuhkan karakter, dan bagaimana pendidikan membuka kesempatan bagi anak-anak untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Editor : Dzulfikar
Artikel Terkait
